0

FF/ONESHOOT/CAN I LET YOU GO?/PG13

Posted by Dindin on 03.06 in ,

Seorang namja terbaring lemas di ranjang rumah sakit dengan selang infus yang terpasang di tangan sebelah kirinya. Di sebelahnya, Yun Mi menyandarkan kepalanya di pinggir ranjang dengan mata terbuka. Tangannya memegang tangan namja itu. Sebentar-sebentar air matanya turun, tapi dengan sigap langsung di hapusnya kembali.

“Young Bae-ah, jebal, jangan tinggalkan aku…” Katanya dengan suara serak sambil menghapus kembali air matanya.

Dia tidak pernah menyangka hal ini akan terjadi kepada Young Bae, kekasihnya.Kemarin, Young Bae berjanji akan mengajaknya jalan-jalan. Young Bae sudah berjanji akan menjemputnya pukul 7 malam. Ketika jam dinding di rumahnya sudah menunjukkan pukul 8 dan Young Bae belum datang juga, Yun Mi tetap sabar dan mencoba menghubungi ponselnya. Karena terus-terusan tidak di angkat, akhirnya ia menyerah.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul 8 lewat, ponselnya berbunyi. Ketika dilihatnya bahwa yang menelepon adalah Young Bae, ia pun menjawab telepon dengan cepat. Ia masih ingat kata-kata dan suara Young Bae saat itu.

“Yun Mi-ah, jalan han guk… mian—” Setelah itu tidak ada suara. Yun Mi merasa sangat panik saat itu. Dia cepat-cepat memberitahu umma-nya dan meminta umma-nya untuk mengantarnya saat itu juga ke jalan han guk.

Ketika mereka sampai di jalan han guk, jalan itu macet. Yun Mi dengan panik langsung turun dari mobilnya dan berlari menuju sumber kemacetan. Ketika ia sudah menemukannya, di dekat situ ada mobil ambulans. Dia menerobos keramaian dan akhirnya sampai di paling depan. Dirinya ingin pingsan saat itu juga ketika melihat kepala Young Bae sudah penuhi cairan berwarna merah segar—darah. Yun Mi refleks meneriakkan nama Young Bae saat itu. Orang-orang yang berada di sekitarnya langsung berusaha menenangkannya.

“Tenang, nona. Tenang.” Orang-orang berusaha menahan Yun Mi agar tidak berlari mendatangi Young Bae yang sedang di angkat ke dalam ambulans. Tidak lama kemudian, umma-nya Yun Mi datang.
“Yun Mi-ah, dimana Young Bae?” Tanya umma-nya. Yun Mi menunjuk ke arah ambulans. Pintu ambulans sudah di tutup, dan ambulans tersebut akan segera jalan. Umma-nya Yun Mi segera menarik Yun Mi meninggalkan keramaian itu.
“Ayo kita susul ambulans itu.” Kata umma-nya sambil menarik Yun Mi menuju ke mobil.

Sepanjang perjalanan, Yun Mi hanya bisa menangis sambil terus menyebut nama Young Bae. Dia benar-benar tidak ingin kehilangan Young Bae. Air matanya semakin deras ketika mengingat wajah Young Bae yang sudah tidak terlihat lagi karena di penuhi darah. Umma-nya berusaha menenangkannya dengan berkata bahwa Young Bae pasti akan baik-baik saja.

Mereka sampai di rumah sakit Dongjanam pukul 10 malam, setelah berhasil melewati kemacetan di jalan han guk. Yun Mi segera menuju ke ruangan tempat Young Bae di rawat setelah mencari tahu dari suster yang berada di meja informasi.

Ketika ia masuk, ia hanya bisa menutup mulutnya dan bertahan agar tidak meneriakkan nama Young Bae saat itu. Air matanya turun tiba-tiba. Umma-nya membawanya ke samping ranjang Young Bae, dan ia hanya mengikuti. Umma-nya menarikkan kursi untuknya, dan mendudukkan Yun Mi di samping ranjang tersebut.

“Young Bae-ah… tidak, jangan sekarang…” Ucap Yun Mi pelan. Umma-nya mengelus-elus punggung Yun Mi, berusaha menenangkannya.
“Yun Mi-ah, dia akan baik-baik saja.” Kata umma-nya. Yun Mi mengangguk pelan. Yun Mi menyandarkan kepalanya di pinggir ranjang. Umma-nya mengelus kepalanya pelan, dan tidak lama kemudian Yun Mi tertidur. Umma-nya mengecup pelan puncak kepala Yun Mi, lalu bergegas pergi meninggalkan mereka.

Dan di sinilah Yun Mi sekarang. Ia baru saja bangun dan ia tidak ingin pulang sebelum Young Bae sadar dari ‘tidur lelapnya’. Ia mengangkat kepalanya dan melihat sekeliling. Hanya ada dirinya, dan Young Bae yang belum sadar. Berarti umma-nya sudah pulang.

Ia mengalihkan pandangannya dan melihat ke arah Young Bae. Yun Mi menggenggam tangan kanan Young Bae. Pelan-pelan ia menyandarkan kepalanya kembali di samping ranjang dan meletakkan tangan Young Bae di atas kepalanya. Ia menangis kembali, dan akhirnya tertidur lagi.

---

Yun Mi terkejut ketika seseorang menyentuh pipinya pelan dan membangunkannya dari tidurnya. Siapa? Young Bae?
“Yun Mi-ah, bangun. Ini umma.” Yun Mi mengangkat kepalanya dan melihat umma sudah berdiri di depannya.
“Umma?” Kata Yun Mi sambil menyipitkan matanya. Umma-nya mengangguk. Umma-nya memegang dahi Yun Mi lalu menjauhkan tangannya lagi.
“Yun Mi-ah, kau demam.” Kata umma. Yun Mi tidak percaya walaupun ia merasa kepalanya sangat pusing. Ia menggeleng cepat.
“Mana mungkin.” Kata Yun Mi.
“Tapi dahimu panas. Pasti kau menangis semalaman dan kedinginan. Ya, kan?” Tanya umma penuh selidik. Yun Mi mengangkat bahu.
Umma menghela nafas pelan lalu berkata, “Kau harus pulang.”
“Aniyo! Aku tidak mau pulang! Aku tidak akan pulang kalau Young Bae belum sadarkan diri.” Kata Yun Mi bersikeras.
“Kau harus pulang, Yun Mi-ah. Young Bae akan baik-baik saja.”
“Tapi—” Yun Mi terus mencari alasan.
“Umma sudah berkata pada suster di sini untuk menjaga Young Bae dengan baik.”
“Tapi, umma, aku ingin terus berada di sampingnya…”
“Yun Mi-ah, umma mengerti. Mengerti sekali. Tapi ini untuk kebaikanmu juga. Lagipula, sebentar lagi keluarga Young Bae akan datang.” Kata umma-nya. Yun Mi tidak bisa berkelit lagi.

“Young Bae-ah, mianhae…” Kata Yun Mi sambil menggenggam tangan Young Bae lalu menempelkannya di pipinya. Setelah itu ia meletakkan kembali tangan Young Bae di atas ranjang dan pergi meninggalkan ruangan itu. Ia sama sekali tidak sadar kalau sejak tadi seseorang sedang memperhatikannya di sudut ruangan.

----

Yun Mi sampai di rumah dalam keadaan pusing setengah mati. Umma membantunya untuk masuk ke kamar setelah itu membaringkannya di atas tempat tidur. Yun Mi memegangi kepalanya yang semakin lama semakin sakit. Umma-nya menempelkan kain yang sudah di kompres dengan air hangat di kepalanya. Ia merasa sakit di kepalanya mulai berkurang. Tidak lama kemudian ia tertidur. Umma-nya lalu meninggalkannya.

Ia terbangun ketika merasakan seseorang membelai kepalanya pelan. Ia membuka mata dan melihat siapakah orang tersebut. Ketika matanya sudah terbuka dengan sempurna, orang itu tersenyum.
“Yun Mi-ah, ini aku.” Kata orang itu. Yun Mi merasa bahwa ini hanyalah mimpi. Tidak mungkin itu adalah Young Bae. Young Bae berada di rumah sakit dan keadaannya sangat parah. Tidak mungkin dia sadar secepat itu. Dan tidak mungkin—sangat tidak mungkin—Young Bae sekarang berada di sampingnya.

Yun Mi mengangkat tubuhnya dan langsung duduk tegak di tempatnya. Dia menatap orang di depannya dengan rasa senang, bingung, sedih, aneh, dan lain sebagainya.
“Yun Mi-ah, ada apa?” Tanyanya dengan suara lembut. Yun Mi merasa bagai tersambar petir ketika mendengar suara itu. Ia sangat hapal suara itu, itu benar-benar suara Young Bae. Yun Mi mengangkat tangannya dan dengan tangan bergetar ia menyentuh pipi Young Bae pelan. Dia bisa merasakannya. Wajah Young Bae terlihat bingung. Yun Mi menarik tangannya cepat dan menampar pipinya sendiri keras-keras. Sesaat ia memandang tangannya dengan tatapan tidak percaya. Pipinya terasa sakit. Ia tidak bermimpi. Ini kenyataan.
“Young Bae-ah?” Akhirnya suara Yun Mi terdengar.
“Ne?” Young Bae terlihat bingung. Banyak pertanyaan berseliweran di kepalanya, tetapi akhirnya ia hanya menganggap pertanyaan-pertanyaan itu angin lalu.
“Young Bae-ah? Kau…” Yun Mi tidak dapat berkata-kata lagi. Air matanya jatuh tiba-tiba, dan dengan sigap Young Bae langsung menghapusnya dari pipi Yun Mi.
“Yun Mi-ah, kau sudah berjanji tidak akan menangis lagi di depanku.” Kata Young Bae. Yun Mi tersenyum.
“Young Bae-ah, aku senang sekali. Aku senang kau berada di sini.” Kata Yun Mi sambil menggenggam tangan Young Bae. Young Bae tersenyum.
“Aku sangat khawatir ketika tahu kau sakit.” Kata Young Bae.
“Kau tahu darimana kalau aku sakit? Kupikir umma tidak memberitahu siapapun kalau aku sakit.” Kata Yun Mi bingung. Young Bae tampak kebingungan dengan pertanyaan Yun Mi. Yun Mi menaikkan alisnya melihat ekspresi Young Bae.
“Mm, itu… tidak penting kau tahu aku tahu darimana kalau kau sakit. Mm… bisa di katakan… insting.” Kata Young Bae sambil tertawa. Yun Mi juga tertawa mendengarnya.
“Insting apa?” Tanya Yun Mi di sela tawanya.
“Hei, aku ini kekasihmu, Yun Mi-ah.” Kata Young Bae sambil tersenyum. Yun Mi ikut-ikutan tersenyum.
“Yun Mi-ah, jeongmal saranghaeyo.” Kata Young Bae. Yun Mi tersenyum. Ketika ia ingin membuka mulutnya untuk berbicara, tiba-tiba pintu terbuka. Yun Mi menoleh dan melihat ke arah pintu. Ternyata umma-nya.

“Yun Mi-ah, kau kenapa? Kenapa tertawa sendiri? Kau sudah merasa baikan?” Tanya umma-nya bertubi-tubi. Yun Mi kebingungan dengan pertanyaan umma-nya.
“Aku tidak apa-apa, umma. Aku tidak tertawa sendiri. Kau tidak lihat? Aku—” Kata-katanya terputus ketika Young Bae menutup mulutnya dan berbisik, “Bilang saja, kau tertawa karena senang hari ini kau sudah merasa jauh lebih baik dari kemarin.” Yun Mi ingin bertanya kenapa, tetapi Young Bae mengisyaratkannya agar hanya menurutinya.
“A-aku tertawa karena… karena senang ketika mendapati diriku sudah merasa jauh lebih baik dari kemarin.” Kata Yun Mi. Umma-nya terdiam kebingungan menatap Yun Mi. Tapi memutuskan untuk tidak menanyakan kenapa Yun Mi jadi terbata-bata mengatakannya. Pasti ada sesuatu.
“Begitu? Baiklah, umma kembali dulu. Sarapan sudah umma siapkan. Kau mau di bawakan ke sini atau—”
“Aku akan ke ruang makan nanti.” Potong Yun Mi cepat. Umma-nya mengangguk lalu pergi meninggalkan kamar. Ketika pintu sudah tertutup dengan sempurna, Yun Mi cepat-cepat menoleh ke samping untuk menanyakan kenapa ia harus berbohong pada umma-nya—yah,tidak sepenuhnya bohong—kepada Young Bae. Tapi ketika ia ingin membuka mulut untuk bertanya, Young Bae sudah tidak ada lagi.
Young Bae-ah?

----

Young Bae hanya berjalan menyusuri trotoar dalam diam. Tidak ada seorangpun yang bisa melihatnya dan tidak ada seorangpun yang tahu kalau sekarang ia bukanlah manusia.
Tidak—Yun Mi mungkin mengetahuinya.
Ia sendiri merasa heran saat melihat tubuhnya terbaring lemah dengan selang infus di tangannya. Saat itu ia melihat Yun Mi sedang bercakap-cakap dengan umma-nya. Ia pun mendengarkan percakapan mereka.
“Aniyo! Aku tidak mau pulang! Aku tidak akan pulang kalau Young Bae belum sadarkan diri.” Kata Yun Mi bersikeras.
“Kau harus pulang, Yun Mi-ah. Young Bae akan baik-baik saja.”
“Tapi—” Yun Mi terus mencari alasan.
“Umma sudah berkata pada suster di sini untuk menjaga Young Bae dengan baik.”
“Tapi, umma, aku ingin terus berada di sampingnya…”
“Yun Mi-ah, umma mengerti. Mengerti sekali. Tapi ini untuk kebaikanmu juga. Lagipula, sebentar lagi keluarga Young Bae akan datang.” Kata umma-nya. Yun Mi terdiam sambil menggigit bibirnya—tanda kalau ia sudah bingung.

Young Bae melihat Yun Mi mengambil tangannya yang sedang terbaring lemas di atas ranjang lalu menempelkannya ke pipinya seraya berkata, “Young Bae-ah, mianhae…”
Setelah itu Yun Mi dan umma-nya pergi meninggalkan ruangan. Dan, ia pun memutuskan untuk mengikuti mereka sampai di rumah. Ia ikut masuk ke kamar dan berdiri di sudut ruangan.

Ketika umma-nya selesai menempelkan kain yang sudah di kompres dengan air hangat ke kepala Yun Mi, Yun Mi tertidur seketika. Umma-nya meninggalkannya setelah itu, dan Young Bae dengan cepat langsung mengambil tempat di samping tempat tidur Yun Mi. Ia terdiam melihat wajah Yun Mi yang pucat. Ia menarik tangannya dan menyentuh tangan Yun Mi. Dia berpikir mungkin ia tidak bisa menyentuhnya, tapi ternyata tidak. Ia bisa menyentuhnya. Ia menoleh ke sekeliling kamar dan langsung berjalan menuju cermin. Ia terkejut ketika tidak mendapati bayangannya ada di sana.

Dan sejak saat itu, ia mulai menyadari kalau ia bukanlah manusia lagi. Ia terus berjalan menyusuri trotoar menuju ke rumah sakit. Ia berjalan sangat pelan, dan menyadari bahwa hari sudah sangat sore ketika ia sampai di rumah sakit. Ia tidak terlalu menghiraukan itu. Ia pun berjalan menuju ke kamar tempat tubuh aslinya masih terbaring lemas. Ketika ia masuk, ia melihat umma-nya sedang menangis di pinggir ranjang sambil memegang tangannya yang masih terbaring lemas.

“Young Bae-ah, bangunlah…” Kata umma-nya di sela-sela tangisnya. Selain umma-nya, ia melihat hyung-nya berdiri di sisi ranjang yang lain dan menatap tubuhnya yang terbaring lemas itu dengan tatapan sedih. Sementara itu appa-nya berdiri di sebelah umma-nya sambil berusaha menenangkan umma-nya.

Young Bae merasa sedih melihat keadaan itu. Ia ingin menemani hyung-nya, ia ingin membantu appa menenangkan umma-nya. Dalam hati ia hanya bisa meminta maaf. Dia keluar lagi dari ruangan itu dan duduk di kursi di lorong rumah sakit tersebut.

Tiba-tiba pintu tempatnya di rawat di buka. Ternyata appa-nya. Appa-nya berjalan meninggalkan ruangan itu, dan Young Bae langsung mengikutinya. Ternyata appa-nya menuju ke ruang dokter. Setelah appa-nya masuk, Young Bae ikut masuk ke dalam.

“Ada yang bisa saya bantu?” Sapa dokter itu ramah sambil mempersilahkan appa-nya untuk duduk. Young Bae berdiri di sudut ruangan.
“Begini, saya ingin menanyakan tentang anak saya. Sebenarnya, apa yang terjadi dengannya? Kenapa ia belum sadar juga?” Tanya appa-nya khawatir. Young Bae menghela nafas mendengar pertanyaan appa-nya.
“Hmm…” Dokter itu terlihat ragu. “Setelah memeriksanya semalam, ia mengalami koma yang tidak kami ketahui kapan akan berakhir.” Kata dokter itu. Appa-nya terkejut, tidak terkecuali Young Bae. Young Bae ingin berteriak saat itu juga.
“Benarkah yang anda katakan itu?” Tanya appa-nya. Dokter itu hanya bisa mengangguk lemah.
“Maaf, ssi. Kami akan melakukan yang terbaik agar ia cepat sadar.” Kata dokter tersebut. Young Bae segera keluar dari ruangan tersebut karena tidak sanggup mendengar kenyataan yang terjadi pada dirinya.

Ia mengalami koma. Tubuhnya masih bernafas. Ia masih hidup. Kalau ia segera kembali ke tubuhnya, ia akan cepat sadar.
Mungkin.
Tapi ia tidak bisa. Ia ingin mencari siapa orang yang menyebabkan dirinya menjadi seperti sekarang. Ia benar-benar yakin, saat itu seseorang sengaja mencelakainya dengan menyalip mobilnya.

------

Yun Mi tidak bisa tidur malam itu. Matanya tidak juga mau menutup. Hanya keadaan Young Bae yang di pikirkannya. Akhirnya setelah sejam lamanya ia berbaring di tempat tidur dan tidak bisa tidur juga, akhirnya ia mengangkat tubuhnya untuk duduk di pinggir tempat tidur. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju ke beranda.

Angin malam menerpa wajahnya ketika ia membuka pintu. Ia menyeret kursi dan meletakkannya tepat di depan pagar pembatas. Setelah itu ia duduk dan menatap ke atas. Langit terlihat cerah malam itu. Banyak sekali bintang. Ia tersenyum.

“Kenapa belum tidur? Ini sudah malam, Yun Mi-ah.” Seseorang merangkul pundaknya tiba-tiba sehingga membuatnya terkejut. Ia menoleh cepat-cepat dan terkejut ketika mendapati wajah orang itu dekat sekali dengan wajahnya. Ia segera menjauhkan wajahnya cepat-cepat.
“Young Bae-ah? Sejak kapan kau ada di sini?” Tanyanya heran.
“Baru saja.” Kata Young Bae sambil tersenyum. Ia menyeret kursi dari dalam kamar menuju ke samping kursi Yun Mi dan duduk di sebelahnya. Mereka berdua lalu hanya diam menatap ke langit.
“Young Bae-ah, kau harus jujur padaku.” Kata Yun Mi tiba-tiba. Young Bae menoleh.
“Tentang apa?”
“Kau… jangan pura-pura tidak tahu.” Suaranya bergetar. “ Kenapa waktu itu kau menghilang tiba-tiba? Kenapa… kenapa saat itu umma tidak bisa melihatmu, sementara aku bisa?” Tanyanya masih dengan suara bergetar. Young Bae tersentak mendengar pertanyaan itu.
“Yun Mi-ah, mianhae…” Kata Young Bae.
“Jujur, Young Bae-ah. Katakan tentang dirimu yang sebenarnya.” Kata Yun Mi tanpa menghiraukan permintaan maaf Young Bae.
“Apa yang kau pikirkan?” Tanya Young Bae.
“Kau… hantu?” Tanya Yun Mi. Young Bae menggeleng. “Lalu?” Tanya Yun Mi lagi. Tiba-tiba Young Bae beranjak dari kursinya. Ia menunduk dan mendekati Yun Mi, lalu mengecup kening Yun Mi. Yun Mi hanya diam.
“Kalau kau ingin tahu yang sebenarnya, kau bisa datang sendiri ke rumah sakit. Besok.” Kata Young Bae sambil berjalan masuk ke dalam kamar.
“Tu-tunggu! Young Bae-ah!” Yun Mi segera beranjak dari kursinya dan segera berlari ke kamar. Ketika ia masuk, keadaan kamar sepi—sama sekali tidak ada orang selain dirinya.
Dia menghilang lagi.

-----

Pagi harinya, Yun Mi segera meminta izin kepada umma-nya untuk menjenguk Young Bae ke rumah sakit. Setelah umma-nya mengizinkan, ia segera keluar rumah dan langsung menuju halte bis. Ketika ia sampai di halte bis, bis belum datang. Ia memutuskan untuk duduk di halte dan mengeluarkan buku bacaan dari tas selempangnya.

Ketika sebuah bis datang, ia langsung menutup bukunya dan dengan sigap memasukkannya ke tas selempangnya. Setelah itu ia langsung naik ke bis dan mengambil kursi di dekat jendela. Ketika matanya melirik ke luar jendela, ia melihat Young Bae berdiri dan sedang menatapnya. Yun Mi terkejut setengah mati. Ketika bis mulai berjalan, Young Bae melambaikan tangan ke arahnya.

Yun Mi ingin turun, tetapi tidak bisa karena bis sudah melaju cepat. Ia menoleh ke belakang, dan ia tidak menemukan sosok Young Bae berada di sana. Ia kembali ke posisi duduk awalnya dan menghela nafas lega. Ia berusaha melupakan kejadian tadi.Mungkin karena ia terlalu kepikiran dengan Young Bae dan akhirnya salah melihat orang.

Tapi mungkin saja. Semalam ia berbicara, bahkan menyentuh Young Bae, dan Young Bae bisa menghilang begitu saja. Ia memukul kepalanya dan berusaha melupakan kejadian barusan.

Yun Mi sampai di sebuah halte dan turun di sana. Setelah itu ia melanjutkan perjalanan ke rumah sakit yang jaraknya sangat dekat. Sampai di rumah sakit, ia langsung menuju ke ruang tempat Young Bae di rawat dengan terburu-buru.

Ketika ia membuka pintu, ia melihat Young Bae masih terbaring lemah dan di sampingnya ada umma-nya Young Bae yang menoleh ke arahnya. Yun Mi bisa melihat mata orang tua itu merah. Tiba-tiba umma-nya Young Bae beranjak dari kursinya dan berjalan menghampiri Yun Mi. Ia memegang kedua pundak Yun Mi dan dengan tiba-tiba menarik Yun Mi ke dalam pelukannya.

“Yun Mi-ah… Young Bae belum sadar juga…” Kata umma-nya dengan suara bergetar. Yun Mi bisa merasakan badannya terguncang akibat menangis. Yun Mi terkejut ketika umma-nya berkata seperti itu. Ia membawa umma-nya ke kursi dan mendudukkannya. Ia berjongkok di depan umma-nya.
“Ajumma, apa yang di katakan dokter?” Tanya Yun Mi pelan.
“Young Bae mengalami koma… dan tidak di ketahui kapan akan berakhir…” Kata umma-nya sambil menghapus air matanya.

Young Bae mengalami koma? Berarti dia masih hidup? Apakah orang yang sedang sakit bahkan koma bisa bangun dan berjalan dengan santai lalu kembali lagi ke rumah sakit?
Yun Mi segera mengenyahkan pikiran itu. Tidak mungkin. Kalaupun Young Bae bangun, umma-nya pasti menyadarinya. Ia melihat sekeliling ruangan dan melihat seseorang sedang berdiri dan menundukkan kepalanya di sudut ruangan. Ketika orang itu mengangkat kepalanya sedikit, ia tahu siapa sebenarnya orang itu. Ia merasa bulu kuduknya berdiri ketika orang itu menundukkan kembali kepalanya.

Young Bae. Itu Young Bae. Ia melihat ke arah Young Bae yang sedang terbaring lemas di ranjang dan melihat kembali ke Young Bae yang sedang berdiri di sudut ruangan. Young Bae berjalan menuju pintu. Tiba-tiba pintu terbuka dan seorang dokter dan seorang suster masuk. Sementara dokter itu masuk, Young Bae keluar dengan gerakan cepat.

“Permisi, nyonya. Kami akan memeriksa anak anda.” Kata dokter itu. Umma-nya mengangkat kepala dan mengangguk pelan.
“Silahkan.” Katanya singkat. Yun Mi segera berdiri dan berbisik kepada umma-nya.
“Ajumma, aku pulang dulu, ya. Annyeong.” Katanya. Umma-nya hanya mengangguk sambil balas berbisik, “Annyeong.”

Yun Mi segera menuju pintu dan menoleh ke kiri kanan ketika sudah sampai di depan pintu. Ia pun berjalan keluar rumah sakit setelah memilih jalan ke kanan. Ketika ia keluar dari pintu rumah sakit, angin musim semi menerpa wajahnya. Ia berjalan keluar dari rumah sakit dan menuju ke taman yang terletak di seberang rumah sakit tersebut.

Ketika ia sudah duduk tenang, pikirannya di penuhi lagi oleh Young Bae. Ia berusaha melupakannya dengan mengambil buku dari tasnya dan berniat membacanya. Setelah 10 menit membaca, akhirnya ia menyerah dan menutup kembali bukunya. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Young Bae.
Young Bae-ah, kau di mana?

“Aku di sini. Kenapa mencariku?” Suara seseorang mengejutkannya. Ia menoleh.
“Kau bisa membaca pikiranku dan datang begitu saja?” Tanyanya heran.
“Tidak. Kau bicara sendiri dan aku mendengarnya.”
“Kau bisa mendengarku dari jauh?”
“Tidak. Dari tadi aku berada di belakangmu.” Kata Young Bae. Yun Mi terdiam. Dia sama sekali tidak merasakan ada orang di belakangnya saat berjalan tadi.
“Jadi… kau sudah tahu yang sebenarnya, kan?” Tanya Young Bae memecah keheningan. Yun Mi hanya diam. “Yun Mi-ah?” Kata Young Bae lagi.
“Young Bae-ah, kenapa kau tidak kembali saja ke tubuhmu? Banyak yang mengkhawatirkanmu, kau tahu.” Kata Yun Mi. Young Bae menunduk.
“Aku tidak bisa. Aku harus mencari orang yang menabrakku malam itu.” Kata Young Bae.
“Sejak kapan kau jadi pembalas dendam?” Tanya Yun Mi marah. Ia merasa tidak mengenal Young Bae yang ada di sampingnya sekarang.
“Kau tidak perlu ikut campur. Kalau aku sudah menemukan orang itu, aku berjanji akan kembali ke tubuhku.” Kata Young Bae dingin. Yun Mi bergetar mendengarnya. Ia ingin menangis dan berteriak sekencang-kencangnya.
“Young Bae-ah, aku tidak suka kau seperti ini. Biarkan saja orang itu. Kembalilah ke tubuhmu.” Kata Yun Mi dengan suara serak. Air matanya mengalir deras dan dengan susah payah ia menghapus air matanya.
“Yun Mi-ah, kau sudah berjanji padaku untuk tidak menangis.” Kata Young Bae sambil ikut menghapus air mata Yun Mi. Yun Mi segera menyingkirkan tangan Young Bae.
“Aku tidak akan menangis kalau kau berjanji tidak akan balas dendam pada orang itu!” Kata Yun Mi tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya.
“Yun Mi-ah, mianhae. Aku tidak bisa.” Kata Young Bae pelan sambil memeluk Yun Mi. Yun Mi hanya diam dan menangis dalam pelukan Young Bae. *huaaaa menyemenyeee*

Ketika bukunya terjatuh, ia segera menghapus air matanya dan melepaskan dirinya dari pelukan Young Bae. Ia mengambil bukunya lalu meletakkannya kembali ke pangkuannya. Ketika ia menoleh ke samping, Young Bae sudah tidak ada. Ia hanya menghela nafas.

*hobi amat sih young bae hilang tiba-tiba! Authornya nih kok gak punya ide lain!—haha kan biar misteri-misteri gaje gitu deeeh—sama sekali nggak ada misterinya. Gaje iya!*

---------

Young Bae berjalan menuju ke jalan han guk, tempatnya dulu di tabrak. Ia berjalan menuju tempat itu dan hanya diam. Bagaimana ia bisa tahu siapa yang menabraknya malam itu? Di sini sama sekali tidak ada petunjuk. Ia berusaha mengingat saat ia melihat mobil mencurigakan yang terus mengikutinya semenjak ia berangkat dari rumahnya.

Ia sempat melihat plat mobil itu, tetapi ia lupa. Ia berusaha mengingatnya. Mobil itu berwarna hitam. Samar-samar ia mulai mengingat kejadian malam itu. Ketika dia akan berbelok, sebuah mobil menyalipnya dan secara tiba-tiba ia mambanting setir. Tidak di ragukan lagi. Ia menabrak pohon besar di pinggir jalan dan ia juga tidak memakai sabuk pengaman. Setelah itu ia tidak bisa mengingat apa-apa lagi.

Plat mobil… plat mobil… plat mobil… Young Bae merasa kepalanya di jatuhi sesuatu yang sangat berat. Ia ingat. Itu mobil sahabatnya. Tidak salah lagi. Tanpa berpikir lagi, ia segera bergegas pergi dari jalan han guk dan segera menuju ke rumah sahabatnya itu.

Ia sampai di depan rumah sahabatnya itu dan segera masuk ke dalam rumahnya. Ia hapal benar seluk beluk rumah tersebut, dan ia pun langsung menuju kamar sahabatnya itu. Ketika ia masuk, ia melihat sahabatnya itu sedang duduk di kursi membelakangi pintu. Ketika Young Bae menutup pintu, sahabatnya itu menoleh.

“Bisa melihatku?” Tanya Young Bae dingin. Sahabatnya terkejut setengah mati.
“Kenapa?” Tanya Young Bae lagi tanpa basa-basi sambil berjalan mendekati sahabatnya itu. Sahabatnya hanya diam menunduk. Hanya pertanyaan itu yang keluar dari mulutnya. Terlalu banyak yang ingin di tanyakannya dengan sahabatnya ini.
“Ki Bum-ah, jawab.” Kata Young Bae lagi. Sekarang ia sudah berada tepat di depan Ki Bum, sahabatnya.
“Aku tidak menyukai kau berada di dekat Yun Mi. Dan aku benar-benar terkejut ketika tahu kalian sudah menjadi sepasang kekasih.” Kata Ki Bum sambil tetap menunduk.
“Kenapa? Kau sudah memiliki Ji Eun.” Kata Young Bae.
“Memang. Aku mencintai Ji Eun. Tapi aku sama sekali tidak mau Yun Mi menjadi milik siapapun.” Kata Ki Bum.
“Kau menyukai Yun Mi?” Tanya Young Bae. “Sejak lama.” Jawab Ki Bum singkat.
“Kau tahu? Ji Eun pasti akan sakit hati kalau kau menduakannya.” Kata Young Bae. Ki Bum menunduk dalam-dalam. Ia bingung harus berkata apa.
“Mian. Sekarang, terserah padamu kau ingin membunuhku atau tidak.” Kata Ki Bum akhirnya.
“Untuk apa?”
“Maafkan aku. Kau pasti tidak tenang. Lebih baik kau kembali ke tubuhmu. Yun Mi pasti khawatir. Maafkan aku yang sudah menabrakmu.” Kata Ki Bum lagi.
“Ki Bum-ah, sebentar lagi aku akan pergi. Aku harap kau bisa menjaganya. Kau tidak perlu jadi pendampingnya, tapi kau harus bisa menjadi sahabatnya yang baik. Dan jangan menduakan Ji Eun. Dia sangat baik kepada—”
“Young Bae-ah, jangan berkata seolah-olah kau benar-benar akan pergi. Maafkan aku.” Potong Ki Bum dengan suara serak.
“Entahlah, aku merasa aku tidak akan lama lagi berada di dunia ini. Tolong jaga Yun Mi.” Kata Young Bae sambil menepuk pundak Ki Bum. Setelah itu ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
“Tu-tunggu!” Ki Bum segera beranjak dari kursinya dan berlari mengejar Young Bae yang sudah keluar. Ketika ia keluar, tidak ada seorangpun.

----


Malam harinya, seperti biasa Yun Mi duduk di beranda dan memikirkan berbagai hal sambil menatap langit. Malam itu hanya ada satu bintang. Ia merasa kesal karena malam itu cuaca tidak bersahabat. Melihat bintang di langit membuatnya ingat lagi dengan Young Bae. Young Bae lagi. Ia berusaha melupakannya dan berusaha memikirkan yang lain selain Young Bae.

Siapa yang menabrak Young Bae? Apa alasan orang itu menabrak Young Bae? Tunggu. Kenapa sekarang Young Bae jadi pembalas dendam?

Tidak. Young Bae lagi yang muncul dalam pertanyaannya. Kenapa ia tidak bisa berhenti memikirkan orang itu? Ia memukul-mukul kepalanya dan segera beranjak dari kursi. Ketika ia membuka pintu dan masuk ke dalam kamar, ia melihat Young Bae sedang berdiri menatapnya.
Kali ini Young Bae terlihat seperti bayangan, berbeda ketika siang tadi, ia masih bisa melihat dengan jelas.

“Young Bae-ah?” Kata Yun Mi. Ia mengucek matanya dan kali ini Young Bae tidak lagi seperti bayangan. Yun Mi bisa melihat Young Bae dengan jelas. Young Bae lalu berjalan mendekati Yun Mi. Matanya sarat kesedihan.
“Yun Mi-ah, mianhae.” Kata Young Bae. Young Bae menggenggam tangan Yun Mi, lalu menariknya ke dalam pelukannya.
“Young Bae-ah, ada apa?” Tanya Yun Mi khawatir.
“Aku tidak balas dendam, dan aku sudah tahu siapa yang menabrakku.” Kata Young Bae dengan suara pelan. Dia melepas pelukannya.
“Siapa? Kenapa orang itu menabrakmu?” Tanya Yun Mi.
“Kau akan mengetahuinya nanti. Dia menyukaimu dan dia cemburu. Dia tidak suka aku bersamamu. Ternyata aku bisa membuat orang cemburu juga.” Kata Young Bae sambil tertawa. Yun Mi mengerutkan keningnya. “Kalau kau sudah tahu orangnya, kau tidak boleh membencinya.” Kata Young Bae lagi. Yun Mi akhirnya mengangguk.
“Baguslah, semuanya sudah beres. Berarti kau akan kembali ke tubuhmu, kan?” Tanya Yun Mi. Young Bae mengangguk. Yun Mi langsung memeluk Young Bae.
“Bagus! Saranghaeyo, Young Bae-ah.” Kata Yun Mi. Young Bae tersenyum.
“Nado Saranghaeyo. Lebih baik sekarang kau tidur, sudah malam.” Kata Young Bae sambil menunjuk jam dinding. Yun Mi mengangguk lalu berjalan menuju tempat tidur. Ia pun berbaring. Young Bae duduk di samping tempat tidur.
“Yun Mi-ah, permintaan terakhir.”
“Hah? Maksudmu?”
“Kenapa kau tidak memanggilku oppa? Aku ingin mendengar dari mulutmu langsung kau memanggilku oppa.” Kata Young Bae. Yun Mi tertawa.
“Baiklah. Young Bae oppa. Saranghaeyo, oppa.” Kata Yun Mi. Tidak lama kemudian ia tertawa—merasa lucu dengan ucapannya sendiri. Young Bae hanya tersenyum sambil mengusap kepala Yun Mi pelan.
“Tidurlah. Aku akan segera kembali ke rumah sakit.” Kata Young Bae. Yun Mi mengangguk lalu memejamkan matanya. Young Bae mengecup keningnya pelan lalu beranjak dari kursinya. Ia berjalan menuju meja belajar Yun Mi dan mengambil secarik kertas dan pulpen.

Ia menatap foto yang di pajang Yun Mi di meja—foto dirinya dengan Yun Mi, lalu mengalihkan pandangannya dan mulai menuliskan sesuatu di atas kertas tersebut.

Sementara itu, Young Bae tidak menyadari kalau Yun Mi masih bangun. Yun Mi mengintip sambil membuka sebelah matanya. Ia terus melihat Young Bae yang duduk membelakanginya. Tetapi karena tidak tahan lagi menahan kantuk, akhirnya ia pun tertidur sebelum Young Bae pergi.

----

Yun Mi terbangun ketika jam bekernya berbunyi nyaring. Ia pun segera bangun dan merapikan tempat tidurnya. Setelah itu ia berjalan menuju kamar mandi. Ketika akan ke kamar mandi, ia melewati mejanya dan melihat kertas dengan tulisan untuk dirinya. Ia pun memutuskan untuk duduk dan membaca kertas itu.
Yun Mi-ah, mianhae.
Mian, aku tidak bisa selamanya ada untukmu. Aku tidak bisa kembali ke tubuhku.Aku harus pergi untuk selamanya. Aku tidak akan kembali lagi. Mian.
Saranghaeyo, jagiya.
Besok pagi, datanglah ke rumah sakit.

Dong Young Bae


Yun Mi bergetar saat membaca surat itu. Air matanya jatuh tiba-tiba dan kertas di tangannya ikut jatuh. Young Bae sudah pergi. Young Bae tidak akan pernah kembali lagi. Young Bae tidak akan ada untuknya lagi.
You have leave me alone
Can I live without you?
Can I survive without you by my side?
Can I let you go?

THE END

0 Comments

Posting Komentar

Copyright © 2009 Dintaeyang's blog All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.